MATERI 5 Pelaporan Laba Rugi

MATERI 5

Pelaporan Laba Rugi

Laporan Laba-Rugi

Laporan laba-rugi merupakan salah satu bentuk laporan keuangan utama yang menyajikan informasi tentang kinerja entitas pada periode tertentu. Unsur laporan tersebut adalah pendapatan (revenue), biaya (expenses), dan laba (income). Laporan ini akan tetap dibutuhkan sebagai laporan keuangan utama yang sangat penting dalam memprediksi aliran kas dimasa yang akan datang serta untuk menilai kinerja manajemen.

 

Definisi Laba (Income)

ü  Laba dan Keuntungan (income and profit) mengacu pada jumlah yang berasal dari revenue atau operating revenue dikurang kos barang yang terjual, biaya-biaya yang lain, dan kerugian (menurut Accounting Terminologi Bulletin/ATB No.2).

ü  Laba Bersih (net income) adalah kelebihan (deficit) pendapatan atas biaya dari suatu periode akuntansi tertentu (menurut APB Statement 4).

ü  Laba Komprehensif (comprehensive income) adalah perubahan dalam equitas (net asset) dikurangi dengan entitas selama periode transaksi dan kejadian/keadaan yang bukan berasal dari sumber pemilik (menurut FASB – SFAC No. 6).

 

Definisi yang ke-1 dan ke-2 mengacu pada pendekatan revenue expense. Penekanannya terletak pada pentingnya standar yang mendefinisikan elemen-elemen laba-rugi serta spesifikasi pengakuan dan pengukurannya. Definisi yang ke 3 mengacu pada pendekatan sumber daya ekonomi, klaim atas sumber daya dan definisi tersebut menjadi arah yang diambil oleh FASB saat ini dan yang akan datang.

 

Pendapatan (Revenue) dan Keuntungan (Gains)

Bagaimanapun cara-cara suatu entitas mendefinisikan laba bersih, pemisahan ke dalam komponen pelaporan akan memberikan gambaran pelaporan yang lebih baik. Komponen tersebut telah dikklarifikasi sebagai pendapatan, biaya, keuntungan, dan kerugian. Terdapat beberapa pandangan terkait dengan pendapatan yang ditunjukkan melalui definisi sebagai berikut:

ü  Pendapatan dihasilkan dari penjualan barang/pemberian jasa dan diukur dengan kos yang dialokasikan kepada konsumen, klien, atau penyewa atas barang/jasa yg diberikan kepada mereka (menurut ATB 2).

ü  Pendapatan merupakan peningkatan bruto dalam sumber daya ekonomi/penurunan bruto dalam kewajiban, dan diukur berdasarkan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang berterima umum serta berasal dari jenis aktivitas yang mengarah pada laba (menurut APB Statement No.4).

ü  Pendapatan adalah aliran masuk/peningkatan yang lain atas sumber daya ekonomi dari sebuah entitas atau pelunasan atas kewajiban selama periode yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, jasa, atau aktivitas yang lain yang merupakan kegiatan utama suatu entitas (menurut SFAC No. 6)

 

 

Keuntungan didefinisikan sebagai gains, yang bersumber selain dari penjualan produk, barang dagangan, atau pemberian jasa. Keuntungan akan meningkatkan ekuitas dari transaksi peripheral atau incidental, kecuali yg merupakan hasil dari pendapatan dan investasi pemilik.

 

Perbedaan antara pendapatan dan keuntungan

ü  Berpendapat bahwa hanya pendapatan yang seharusnya dilaporkan dalam income statement.

ü  Berpendapat bahwa sifat keuntungan tidak menggambarkan kejadian yang berulang-ulang dari kegiatan utama suatu entitas. Sebagai aktivitas yang menghasilkan laba, keuntungan seharusnya dikeluarkan dari laporan laba-rugi.

Pihak yang berpandangan bahwa keuntungan tidak dimasukkan dalam laporan laba-rugi berpegangan pada konsep current operating income. Sedangkan pihak yang mendukung keuntungan dimasukkan dalam laba-rugi berpegangan pada konsep all inclusive income.

 

Pengakuan Pendapatan (Revenue)

Pengakuan pendapatan dalam akuntansi pada umumnya didasarkan pada prinsip objektivitas. Artinya harus ada bukti yang cukup untuk dapat mengakuinya sebagai pendapatan. FASB mengajukan 2 kriteria pengakuan pendapatan yaitu sebagai berikut:

  1. Pendapatan baru dapat diakui bilamana pendapatan itu telah direalisasikan. Dikatakan terealisasi bilamana telah terjadi transaksi pertukaran produk/jasa hasil kegiatan suatu entitas bisnis dengan kas atau klaim untuk menerima kas.
  2. Pendapatan baru dapat diakui bilamana pendapatan tersebut sudah terhimpun. Dikatakan telah terhimpun bilamana kegiatan menghasilkan pendapatan tersebut telah berjalan dan secara substansial telah selesai sehingga suatu unit usaha berhak untuk menguasai manfaat yang terkandung dalam pendapatan.

Biaya dan Kerugian (Losess)

Dalam pengukuran laba periodik, semua biaya memiliki kedudukan yang sama terhadap pendapatan dan ditandingkan dengan dasar penandingan yang memuaskan yaitu kelayakan ekonomik bukan kriteria fisik. Dari gambaran tersebut, biaya dapat didefinisikan sebagai berikut:

  1. Biaya dalam arti luas adalah semua cost yang dibiayakan yang dapat dikurangkan pada revenue (menurut ATB No. 4).
  2. Biaya adalah penurunan bruto asset/peningkatan bruto dalam liabilities yang diakui dan diukur sesuai PABU  yang merupakan hasil aktivitas yang berorientasi pada laba. (menurut APB Statement No. 4).
  3. Biaya adalah arus keluar/penggunaan lain dari harta/terjadinya kewajiban selama satu periode dari penyerahan/produksi barang, penyerahan jasa, atau kegiatan lain yang merupakan operasi utama suatu entitas bisnis. (menurut FASB dalam SFAC No. 6).

Bebeda halnya dengan kerugian. Dalam laporan laba-rugi, kerugian ditempatkan pada urutan setelah laba operasi. Pendapatan tersebut menunjukkan bahwa kerugian tidak memiliki hubungan dengan pendapatan dimana kerugian tersebut terjadi. Kerugian merupakan pengurangan asset bersih, tetapi posisinya tidak seperti biaya/transaksi capital. (menurut APB statement No. 4 dan FSAC No. 6).

APB statement No. 4 Mengklasifikasikan kos/biaya dalam 3 kategori sebagai berikut:

  1. Kos yang secara langsung berhubungan dengan pendapatan dalam suatu periode.
  2. Kos yang berhubungan secara tidak langsung dengan pendapatan dalam suatu periode.
  3. Kos yang secara praktek tidak dapat dihubungkan dengan pendapatan periode mana pun.

Pengukuran dalam Akuntansi dan Peristiwa Masa Depan

Proses pelaporan akuntansi melibatkan data yang sudah lewat (data historis) dan kejadian masa lalu tidak bisa dilepaskan dengan masa yang akan datang. Kejadian yang telah terjadi dan dicatat, tetapi pelaporannya sangat tergantung pada interprestasi kita pada kondisi dimasa yang akan datang atau peristiwa dimasa depan (future event).

Contoh:

Perhitungan depresiasi tergantung pada peristiwa dimasa depan seperti estimasi tahun ekonomis asset dan harapan nilai sisa asset.

 

Aspek-Aspek dari Peristiwa di Masa Depan

Beberapa aspek dimasa depan penting diperhatikan karena memberi pengaruh pada cara penanganan kejadian ekonomis oleh suatu entitas sebagai berikut ini:

  1. Persepsi Terhadap Peristiwa Masa Lalu

Kadang-kadang pengakuan atas kejadian yang lalu diatur oleh kondisi yang berhubungan dengan apakah sebagai “one event view atau dual event view”.

Contoh:

Asumsi bahwa manajemen membuat incentive penawaran pada pekerja untuk pensiun yang lebih awal. Penganut pandangan single-view akan mengakui transaksi yang terjadi ketika penawaran yang dibuat, sementara pendukung dual event tidak akan mengakui kewajiban sampai pekerja benar-benar menerima tawaran. Pengakuan dual events kurang percaya pada probabilitas estimasi.

  1. Probabilitas Sifat Peristiwa di Masa Depan

Probabilitas sifat kondisi di masa depan secara jelas merupakan masalah utama yang berpengaruh pada pengakuan suatu kejadian.  Masih banyak pihak yang berpandangan bahwa pengakuan biaya depresiasi bertujuan untuk menutupi kos operasi asset di masa depan. Dalam kasus asset, total kos mungkin tidak dapat menutupi nilai asset yang didepresiasi dan kasus hutang akan memunculkan contingent liabilities yaitu “reasonable possible or remote”.

  1. Nilai Pasar

Beaver (1991) telah mengamati bahwa nilai pasar merupakan gudang informasi tentang kondisi masa depan dengan mengacu pada harga-harga sekuritas yang sering dianggap sebagai suatu konsesus atas nilai saai ini dari future cash flowsecurities yang disesuaikan dengan memasukan pertimbangan risiko. Kendati demikian, informasi nilai pasar tersebut masih mengandung kelemahan, yaitu banyak harga pasar yang berasal dari perdagangan sekuritas yang kecil/rendah atau keandalan dari angka-angka nilai pasar yang dihasilkan.

  1. Konservatisme

Konservatisme dalam akuntansi dapat menambah keseimbangan informasi keuangan secara menyeluruh untuk para pemakai.

Contoh:

Akuntansi konservatisme menggunakan metode cost or market with ever is lower  dalam akuntansi persediaan serta mengakui potensi rugi kontingen, tetapi tidak mengakui potensi keuntungan. Meski memiliki keunggulan di satu sisi, Beaver juga memberi catatan yaitu susah membangun rancang bangun konservatisme dengan basis yang konsisten dengan standar.

  1. Kondisi Ekonomi Masa Depan

Perubahan pada kondisi ekonomi di masa depan dapat meningkatkan dan menurunkan nilai asset yang dimiliki oleh suatu entitas. Jika nilai asset saat ini menurun karena kondisi ekonomi, apakah penurunan tersebut akan dipecahkan dan kalau demikian, di asset mana pengaruh penurunan tersebut dicatat. Jelasnya, tidak ada satu pun yang dapat menjamin prediksi ekonomi.

 

Transaksi Non-operating

Menurut APB opinion No.9, berbagai transaksi non-operating (non-operating transactions) terdiri atas berbaagai komponen berikut yaitu:

  1. Perkiraan-perkiraan extraordinary

Pelaporan perkiraan extraordinary telah menjadi kontroversi dalam beberapa tahun ini. Dasar kontroversi terdapat pada pengaruh perkiraan extraordinary  yang mungkin ada pada laporan keuangan terhadap opersepsi para pemakai informasi atas hasil operasi dan proyeksi dalam future operation untuk laporan suatu entitas. Kontroversi yang muncul tersebut merupakan contoh yang baik untuk memberikan batas finite uniformity menuju rigid uniformity.

  1. Perubahan metode akuntansi

Perubahan dalam metode akuntansi berpengaruh secara signifikan pada laporan keuangan baik current reporting period dan setiap trend yang ditunjukkan oleh perkiraan/kelompok perkiraan dalam laporan keuangan komparatif serta historical summaries dari laporan suatu entitas bisnis. Perubahan metode akuntansi diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu:

ü  Perubahan prinsip akuntansi.

ü  Perubahan dalam estimasi akuntansi.

ü  Perubahan dalam laporan entitas.

  1. Operasi yang terhenti

Satu perlakuan khusus terhadap perkiraan non-operating yang mengharuskan pelaporan akuntansi yang bersifat khusus yaitu pada saat kegiatan operasi suatu entitas terhenti. Operasi yang terhenti akan memunculkan keuntungan maupun kerugian karena penghapusan sebagian dari usaha yang mengharuskan perlakuan akuntansi khusus.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s