INDONESIA, MESIR, DAN AFRIKA

LATAR BELAKANG  

Hubungan Indonesia dengan benua Afrika penuh dengan nostalgia sejarah yang romantis, dalam hal ini penyusun akan melihat hubungan antara Afrika, Mesir dan Indonesia dari beberapa perpektif. Diantaranya dilihat dari perpektif Kesejarahan, perspektif politik, perspektif kebudayaan, perpektif keagamaan, dan perpektif Ekonomi.

Sebelum melangkah lebih jauh dan untuk lebih jelasnya  penyusun akan menguraikan atau menjelasakan satu persatu wilayah Afrika, Mesir dan Indonesia, agar untuk lebih memudahkan kita dalam membahas atau melihat hubungan ketiganya.

Afrika, dilihat sepintas dari peta, benua Afrika pada masa itu seakan-akan merupakan suatu Jazirah yang besar dari benua Asia. Arus perpindahan suku-suku dari Asia membawakan perkembangan kebudayaan di Afrika.

Republik Arab Mesir, lebih dikenal sebagai Mesir, (bahasa Arab: مصر, Maṣr) adalah sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Mesir juga digolongkan negara maju di Afrika. Mesir berbatasan dengan dua lautan,  yaitu di Utara dengan laut Tengah dan di Timur dengan Laut Merah, kedua lautan ini dihubungkan oleh terusan suez yang memisahkan benua Asia dan Afrika.

Secara Empiris bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk terbesar di dunia, memiliki satuan paling dasar yaitu suku bangsa yang terbesar di seluruh Pelosok Nusantara. Sebagian besar dari penduduk Indonesia termasuk ras paleomongoloid, sebutan yang diberika oleh Von Eickstedt untuk ras Melayu. Sebagian cabang dari ras induk kuning, ras melayu ini yang tua.

Hubungan Afrika, Mesir dan Nusantara/Indonesia memang memiliki sejarah yang sangat panjang dan saling mempengaruhi atau saling mendukung satu sama lainnya. Hubungan ini terjadi sejak awal para pelaut nusantara yang melakukan pelayaran perdagangan ke berbagai benua dan telah terjadi kontak dengan beberapa negara luar termasuk Mesir, dan Afrika. Dan dari sinilah semua hubungan ini dimulai.

HUBUNGAN AFRIKA, MESIR DAN INDONESIA DILIHAT DARI PERSPEKTIF KESEJARAHAN

Sejarah merupakan bagian penting dari pendekatan sosial budaya, latar belakang sejarah keberadaan bangsa Indonesia sebagian besar diawali terjadinya dari eksosdus manusia. Dapat dipastikan penghuni kepulauan Nusantara telah mengembangkan transportasi laut sehingga mereka dapat mendiami hampir seluruh kepulauan Nusantara. Sebelum kehadiran bangsa Penjajah, laut nusantara telah dijadikan sebagai “ruang temu” dan wadah terjadinya interaksi antar berbagai suku, yaitu sebagai media  Ekonomi, ajang percaturan politik, pertukaran bahasa dan Budaya yang kemudian muncul kesadaran sebagai sebuah bangsa (Indonesia).

Menutur Robert Dick, pengaruh peradaban Nusantara di Afrika merupakan bukti sejarah mutakhir tentang penjelajah pelaut Indonesia sebelum Cheng Ho dan Colombus. Para pelaut Nusantara telah menaklukan samudera jauh sebelum Bangsa Eropa, Arab dan Cina memulai sebagai penjelajah Bahari. Pada abad ke 5 Masehi para pelaut Nusantara telah mampu menyeberang samudera Hindia hingga mencapai Afrika dan meninggalkan jejak budaya. Mereka memperkenalkan jenis-jenis tanaman, teknologi, musik dan Diantara bukti tersebut adalah banyaknya kesamaan alat-alat musik, teknologi perahu, bahan makanan, budaya dan bahasa bangsa Zanj (ras Afro – Nusantara). Di sana diketemukan sebuah alat musik sejenis xilophon atau yang kita kenal sebagai gambang dan beberapa jenis alat musik dari bambu yang merupakan alat musik khas Nusantara.

Ada juga kesamaan pada seni pahat patung milik suku Ife, Nigeria dengan patung dan relief perahu yang terpahat di candi Borobudur. Beberapa tanaman khas Indonesia yang juga tak luput hijrah ke sana, semisal pisang raja, ubi jalar, keladi dan jagung. Menurut penelitian George Murdock, profesor berkebangsaan Amerika pada 1959, tanaman-tanaman itu dibawa orang-orang Nusantara saat melakukan perjalanan ke Madagaskar.

Kemashuran pelaut-pelaut Jawa, Maluku, sulawesi, Kalimantan dan Papua dengan berbagai budaya yang berkembang, memberikan cukup bukti kejayaan Indonesia sebagai bangsa bahari di masa silam. Ha ini terbukti dengan dibuatnya perahu Jung buatan orang Jawa di Madagaskar jauh sebelum bangsa Portugis, termasuk peninggalan Camping Bugis yang masih ada sampai sekarang di Afrika Selatan.

Para penjelajah laut dari Nusantara diperkirakan sudah menjejakkan kaki mereka di benua Afrika melalui Madagaskar sejak masa-masa awal tarikh Masehi. Jauh lebih awal daripada bangsa Eropa mengenal Afrika selain Gurun Sahara-nya dan jauh sebelum bangsa Arab dan Zhirazi dengan perahu dhow mereka menemukan kota-kota eksotis di Afrika, seperti Kilwa, Lamu, dan Zanzibar.

Bukan itu saja, hipotesa Dick –Read  cukup mengejutkan mengenai kehebatan pelaut Nusantara. Diantaranya adalah, rentang antara abad ke-5 dan ke-7 M, kapal-kapal Nusantara banyak mendominasi pelayaran dagang di Asia. Pada waktu itu perdagangan bangsa Cina banyak bergantung pada jasa para pelaut Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa perkapalan Cina ternyata banyak mengadopsi teknologi dari Indonesia. Bahkan kapal Jung yang banyak dipakai orang Cina ternyata dipelajari dari pelaut Nusantara. “Meskipun para pelaut Nusantara tidak meninggalkan catatan dan bukti-bukti konkret mengenai perjalanannya, sisa-sisa peninggalan mereka di Afrika jauh lebih banyak daripada yang diketahui oleh umum,”.

Di afrika juga ada masyarakat yang disebut Zanj yang mendominasi pantai timur Afrika hampir sepanjang millennium pertama masehi. Ada petunjuk yang mengarahkan kesamaan Zanj Afrika dengan Zanaj atau Zabag di Sumatera. Dick mengajukan dugaan kuat keterikatan Zanj, Swarnadwipa dan Sumatera. Swarnadwipa yang berarti Pulau Emas merupakan nama lain Sumatera. Hal ini dapat dilihat dalam legenda Hindhu Nusantara. Dick menduga, banyaknya emas di Sumatera ini dibawa oleh Zanj dan pelaut Nusantara dari Zimbabwe, Afrika. Karena Dick juga menemukan bukti yang menyatakan tambang-tambang emas di Zimbawe mulanya dirintis oleh pelaut Nusantara yang datang ke sana. Sebagian tak kembali dan membentuk ras Afro-Nusantara. Mungkin ras inilah yang disebut Zanj.

 

HUBUNGAN AFRIKA, MESIR DAN INDONESIA DILIHAT DARI PEREKTIF KEAGAMAAN.

Di Indonesia terdapat 5 agama, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha, ke Lima agama ini hidup rukun dan damai di bawah naungan Pemerintah RI Dan berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pancasila yang berlaku di Indonesia. Dan agama yang paling dominan yang terdapat di Indonesia yaitu agama Islam. Proses masuknya islam di Nusantara ternyata menyimpan sejarah yang luar biasa yang menghubungkan Indonesia dengan dunia-dunia luar termasuk Mesir, Afrika. Islam adalah suatu kebudayaan, suatu agama, suatu Negara atau suatu kompleks perekonomian yang sangat luas, suatu pasar yang sungguh besar. Didirikan oleh Nabi Muhammd ( tahun 570 – 632 sesudah masehi. penyebaran Islam telah hampir selesai sekitar tahun 750 setelah masehi. Pada permulaan phase ini, Islam disebarkan oleh orang-orang Arab, yaitu para tentara, khalifah dan para pedagang.

Walaupun mesir sesungguhnya terletak di benua Afrika, tetapi para ahli mengenai Afrika mengabaikan Mesir dari pembahasan – pembahasan mereka, karena mereka melihat bahwa Mesir ternyata lebih dekat dengan Timur Tengah. Sekalipun demikian, dalam hal Islam, maka benua ini harus dipandang sebagai satu kesatuan. Sesungguhnya, Mesir merupakan daerah politis yang pertama yang dikuasai oleh masyarakat Muslim, dimana daerah ini mula-mula dikuasai oleh dua caliphate secara berturut-turut dan kemudian oleh serangkaian hirarki kemiliteran yang sebenarnya merupakan keturunan dari budak-budak belian (mamluks). Mesir kemudian berada di bawah pemerintahan orang luar, seperti Ottoman Turkis, dinasti Muhammad Ali dari Albania dan kemudian rejim kolonial Inggris. Kemudian berhasil memperoleh kemerdekaannya pada pertengahan tahun 1950. Selama periode yang panjang ini, Mesir mencoba kebudayaan dan pengaruh politik tertentu ke beberapa daerah sebelah timur Libya, sepanjang sungai Nil hingga ke Nubia dan daerah bagian timur Sudan (mulai dari Bilad Al Sudan / “tanah orang hitam”) dan juga turun ke Laut Merah menuju Somalia dan Afrika Timur.  Pada abad ke tujuh, mesir merupakan tempat kediaman orang Muslim yang paling penting. Mesir berfungsi sebagai batu loncatan untuk orang-orang Arab yang ingin menaklukan Afrika Utara yang sekarang dikenal dengan Negara Libya, Algeria, Maroko, Tunisia dan pulau-pulau yang ada di sebelah utara Mauritania.

Indonesia pada masa lalu dikenal dengan perdagangan yang luar biasa yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara luar, Indonesia pada masa Sriwijaya merupakan masa yang mempunyai kejayaan, karena pada masa kejayaan Sriwijaya kebanyakan  kegiatan orang-orangnya beraktifitas di lauatan. Negara tersebut maju dalam perniagaan laut, juga banyak diperoleh keuntungan dari hasil perompakan atas kapal-kapal pengangkut hasil antar samudera. Dari pantai-pantai Sumatra diawasinya pantai Selat Malaka serta Selat Sunda, dua jalan laut penghubung Samudera Hindia dengan Laut Cina Selatan dan Lautan Nusantara.

. Peran besar yang dimainkan oleh bangsa Indonesia dalam perdagangan laut internasional mendorong berbagai bangsa untuk ikut melibatkan diri. Pelabuhan-pelabuhan yang dibangun berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan dunia. Pada masa-masa selanjutnya semakin banyak bangsa asing yang ikut terlibat, seperti Jepang dan bangsa-bangsa yang beragama Islam. Pedagang Islam itu tidak berasal dari satu bangsa, melainkan dari berbagai bangsa  di sekitar Arab

     Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:

  1. Pada abad ke-7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam, dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita dari Cina.
  2. Kerjaan Samudera Pasai penganut aliran mahzab Syafi’i, dimana pengaruh mahzab  Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mahzab Hanafi.
  3. Raja-raja Samudera Pasai menggunakan gelar Al-Malik yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.

 

HUBUNGAN AFRIKA, MESIR DAN INDONESIA DILIHAT DARI PERPEKTIF EKONOMI.

Ekonomi Prasejarah Nusantara sangat Erat kaitannya dengan masa prasejarah Indonesia atau Nusantara. Prasejarah Indonesia itu tidak dapat di lepaskan dari sejarah umat manusia sendiri, bahkan sejarah alam semesta.

Dengan keterbatasan sumber daya, manusia harus melakukan pilihan dari berbagai kemungkinan yang ada. Pilihan yang diambil adalah pilihan yang memberikan keuntungan yang besar. Dengan keterbatasan sumber daya pula, kita harus mengorbankan kepentingan yang satu untuk dapat memenuhi kepentingan yang lain, karena terbatasnya uang yang dimiliki.

Indonesia merupakan daerah khatulistiwa yang sangat strategis menghubungkan antara kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Asia Tengah, Asia Barat, Asia Selatan maupun Afrika dan Teluk Persia.  Dan sejak awal Masehi dalam lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia dapat ditempuh melalui dua jalur perdagangan yaitu sebagai berikut :

  1. Melalui jalur darat yang dikenal dengan sebutan “Jalur Sutera” yakni dari Cina melalui Asia Tengah dan Turkistan sampai Laut Tengah hingga jalan mengubungkan antara Cina dengan kafilah-kafilah dari India dan Persia. Barang niaganya tetutama adalah kain sutera.
  2. Melalui Laut yaitu dari Cina dan Indonesia melalui Selat Malaka ke India, Teluk Persia, Laut Merah dan Afrika. Atau sebaliknya dari Teluk Persia, Afrika, India, Indonesia, Selat Malaka dan Asia Timur. Komoditinya terutama adalah rempah-rempah.

Bagi Indonesia, Afrika mempunyai potensi yang cukup besar yaitu guna perluasan akses pasar. Beberapa jenis komoditi utama yang di ekspor oleh Indonesia, ke negara-negara Afrika yang antara lain: fixed vegetable, fat oil, paper and paper, board, soap, textile, building materials, natural rubber lattex, coffee, tyre, fabrics, furniture dan lain-lain. Sementara produk impor Indonesia dari negara-negara Afrika adalah cotton, pulp and waste paper, fertilizer manufactured, sugar, phenols, waste and scrap metal of iron or steel, zinc dan lain sebagainya. Ekspor Indonesia yang terbesar pada saat ini di Afrika adalah ke Mesir dan Afrika Selatan, di mana total proporsi ekspor dari dua negara itu sendiri adalah 50 persen dari total keseluruhan nilai ekspor ke benua Afrika. Dalam meningkatkan potensi pasar ekspor Afrika itu, Indonesia sejak tahun 2006 lalu mendorong diversifikasi produk yang selama ini didominasi minyak nabati dan produk turunannya seperti sabun, pulp dan kertas, elektronik, barang plastik dan furnitur

Hubungan perdagangan antara RI – Afrika dapat dikatakan berkembang cukup baik. Kecilnya perdagangan ini antara lain diakibatkan citra negatif Afrika di mata pengusaha Indonesia umumnya, mengingat kondisi Afrika yang rawan konflik dan isu keamanan lainnya. Guna mendukung maupun meningkatkan hubungan kerjasama ekonomi dengan negara-negara Afrika, pemerintah Indonesia sejak tahun 2006 telah memberlakukan pemberiaan Visa on Arrival (VOA) terhadap tiga negara di kawasan Afrika (Afrika Selatan, Mesir dan Aljazair). Hal tersebut, menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang sangat besar terhadap peningkatan hubungan kerjasama ekonomi dengan negara-negara Afrika. Pemberian VOA tersebut merupakan salah satu pelaksanaan upaya kongkrit pemulihan kerjasama ekonomi Indonesia dengan negara-negara di Afrika dengan memberikan akses masuk yang lebih mudah bagi para pelaku dan pemangku kepentingan ekonomi asal Afrika.

Sementara dalam hal perbankan, antara Bank Indonesia (BI) dan SARB (South Africa Reserve Bank) telah ada kerjasama dalam rangka pertukaran data dan informasi. Kerjasama ini perlu diperluas agar dapat membuka jalan dan memungkinkan bank komersil kedua negara dapat menjalin hubungan operasional (bank correspondence), khususnya dalam menunjang pembiayaan ekspor dan impor kedua negara. Partisipasi perbankan kita akan sangat membantu dalam rangka meningkatkan hubungan perdagangan kedua negara.

Salah satu bentuk konkrit dari kerja sama perdagangan Indonesia dan Afrika adalah dengan diadakannya Dialog Kemitraan Indonesia-Afrika (Indonesian-African Partnership Dialogue/IAPD, yang diadakan di Batam pada tanggal 5 – 7 November 2006.

HUBUNGAN AFRIKA, MESIR DAN INDONESIA DILIHAT DARI PERPEKTIF POLITIK.

KAA 1955 menjadi momen paling menentukan bagi negara – negara yang terlibat di dalamnya, khususnya Indonesia dalam hubungannya dengan negara – negara di Afrika. Indonesia adalah tuan rumah dari perhelatan akbar tersebut dan pemrakarsa utama KAA yang dihadiri oleh 29 negara. Konferensi tersebut dengan sukses menghasilkan sepuluh pasal dari pernyataan akhir Konferensi yang terkenal dengan “Dasa Sila Bandung.” Apa yang dihasilkan di KAA tahun 1955 waktu itu telah merubah warna politik Internasional untuk selamanya, khususnya di benua Asia-Afrika.

Hubungan Indonesia – Afrika memasuki babak baru setelah penyelenggaraan KTT Asia Afrika 2005 dan Peringatan 50 tahun KAA 1955 pada tanggal 22 – 24 April 2005 lalu yang telah memberikan peluang bagi negara-negara Asia-Afrika untuk mereformulasikan gagasan-gagasannya secara konstruktif, tidak saja bagi kepentingan memajukan kedua benua tetapi lebih luas bagi kepentingan masa depan peradaban dunia yang damai dan sejahtera. Kemitraan strategis ini dibangun atas dasar kepentingan bersama, pemikiran-pemikiran yang bisa diterapkan secara kongkrit, serta program-program praktis yang dapat menciptakan dan meningkatkan kesejahteraan, kemajuan dan perdamaian di kedua kawasan.

Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik dengan 40 negara dari 53 negara Afrika dan membuka 16 Perwakilan (termasuk Konjen RI di Cape Town). Eratnya hubungan ini tidak terlepas dari dukungan Indonesia terhadap perjuangan bangsa Afrika untuk melepaskan diri dari kekuasan penjajah. Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955, yang kemudian melahirkan Gerakan Non Blok (GNB) diakui oleh negara-negara Afrika banyak membantu dalam perjuangan kemerdekaan termasuk menghapuskan sistem Apartheid di Afrika Selatan.

Kerjasama timbal-balik juga nampak dalam upaya saling dukung pada lembaga/organisasi internasional, seperti di forum PBB, GNB dan OKI.

Hubungan baik negara-negara Afrika dengan Indonesia terlihat dari dukungan terhadap integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di samping itu, krisis ekonomi yang menimpa Indonesia diyakini oleh negara-negara Afrika tidak akan mengurangi aktivitas dan sumbangan Indonesia terhadap GNB. Dalam masalah Timor – Timur pasca jajak pendapat, negara-negara Afrika pada umumnya juga menunjukkan sikap yang simpatik dan tidak lagi menyulitkan posisi Indonesia di forum internasional.

Keberhasilan Indonesia menduduki posisi strategis di berbagai forum internasional juga tidak terlepas dari sumbangan dan dukungan dari negara-negara

Afrika. Namun disayangkan bahwa hubungan baik secara politis ini belum diikuti dengan perluasan kerjasama ekonomi dan sosial budaya yang memadai. Dalam hubungan kerjasama dengan negara-negara Afrika masih terbuka luas potensi dan peluang kerjasama yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Di bidang politik dan keamanan, Indonesia bersama negara-negara Asia dan Afrika terus-menerus memperjuangkan revitalisasi dan restrukturisasi PBB sehingga badan dunia ini diharapkan memiliki fungsi dan kewenangan yang lebih tegas dan demokratis; meningkatkan kerjasama dalam penciptaan keamanan dan perdamaian regional dan internasional, termasuk upaya pemberantasan terorisme internasional dan kejahatan transnasional.

Indonesia mulai menelaah kembali kebijakan – kebijakan negaranya terhadap negara – negara Afrika pada awal tahun 1990 an. Seiring dengan perkembangan politik yang menggembirakan dan pertumbuhan yang positif Ekonomi di kawasan Afrika, politik luar negeri RI diprioritaskan pada upaya peningkatan kerja sama dengan dukungan sahabat di Afrika bagi percepatan pemulihan perekonomian nasional dan peningkatan citra Indonesia. Hubungan baik antara Indonesia dengan negara – negara Afrika yang telah ditunjukan dengan sikap yang simpatik dan tidak menyulitkan posisi Indonesia di forum internasional terus dibina dan ditingkatkan pada masa mendatang.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, Indonesia secara aktif berupaya membangun jembatan kerja sama Asia-Afrika sebagai sarana dalam konstruksi politik luar negeri RI selain APEC, ASEM, dan FEALAC

HUBUNGAN AFRIKA, MESIR DAN INDONESIA DILIHAT DARI PERPEKTIF KEBUDAYAAN.

            Indonesia Dan Afrika memiliki pengaruh kebudayaan sejak awal masuknya islam di Indonesia.  Karena para pelopor masuknya islam di Indonesia adalah bangsa-bangsa arab yang juga berasal dari Mesir, Afrika. Dan masuknya islam di Indonesia telah merubah struktur pola hidup masyarakat Indonesia pada umumnya.

                Perlak (Aceh) yang terletak di ujung pulau Sumatera merupakan terminal bagi bertemunya antara pedagang dari afrika, Arab, India dan Cina yang memberikan kontribusi kebudayaan terutama budaya Islam pada penduduk setempat, karena aktivitas pelayaran dan perdagangan para saudagar Islam selain berniaga, mereka juga banyak bertindak sebagai mubaligh.

            Jika diperhatikan, ajaran suatu agama akan membawa pegaruh besar bagi pola-pola budaya dalam segala aspek kehidupan suatu masyarakat dalam mencapai suatu tujuan hidup secara utuh, hal demikian menunjukkan bagaimana sebenarnya bahwa melalui agama yang dianut suatu masyarakat dalam periode tertentu dapat memberikan gambaran sejarah tatanan kehidupan masyarakatnya.

Konsep masuknya Islam di Nusantara pun mencoba menelusuri artefak-artefak yang bercorak Islam sebagai peninggalan budaya agama sehingga para ahli sejarah dapat berusaha menentukan kapan hasil-hasil budaya ini dibuat oleh suatu masyarakat dan menentukan apakah corak hasil budaya ini asli dari masyarakat itu sendiri atau ada hubungannya dengan pola-pola budaya dari luar masyarakt itu sebagai damapk akulturasi..  Budaya-budaya local yang kemudian berakulturasi dengan Islam antara lain acara slametan (3,7,40,100, dan 1000 hari) di kalangan suku Jawa. Tingkeban (nujuh Hari). Dalam bidang seni, juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam kesenian wayang di Jawa. Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa yang berasal dari agama Hindu India. Proses Islamisasi tidak menghapuskan kesenian ini, melainkan justru memperkayanya, yaitu memberikan warna nilai-nilai Islam di dalamnya.tidak hanya dalam bidang seni, tetapi juga di dalam bidang-bidang lain di dalam masyarakat Jawa.  Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat misalnya: bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu tebal, bertiang saka, dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektur local. Sementara esensi Islam terletak pada “ruh” fungsi masjidnya.

Saat ini, hubungan Afrika dan Indonesia Sejumlah kerjasama teknik di bidang pendidikan dan sosial budaya juga telah terlaksana. Untuk menambah bobot kerjasama tersebut, saat ini Indonesia dan Nigeria sedang menindaklanjuti inisiatif kerjasama di bidang satelit. Penjajagan kerjasama serupa juga tengah dilakukan dengan Madagaskar dan Seychelles. Dengan demikian, kerjasama ini akan mengawali suatu bentuk kerjasama baru di sektor tradisional menuju kemitraan strategis di bidang teknologi canggih.

Hubungan sejarah yang dalam antara bangsa Indonesia dan Afrika selalu dimanfaatkan dengan baik oleh Pemerintah Republik Indonesia. Salah satu contohnya adalah ketika Kementerian Luar Negeri RI bekerjasama dengan kedutaan besar negara di Asia dan Afrika menggelar Festival Film Asia Afrika yang menampilkan 14 film dari Iran, Uzbekistan, India, Bangladesh, Aljazair, Kenya, Korea Selatan, RR China, Jepang, Ethiopia, Myanmar, Thailand, Srilanka dan Indonesia.

Contoh lain dari kerja sama sosial budaya yang Indonesia lakukan adalah Diklat diplomat madya untuk negara – negara Asia – Afrika. Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan keikutsertaan diplomat asing dalam diklat diplomatik Indonesia menunjukkan bahwa Pusdiklat Kemlu telah ikut menjalankan diplomasi Soft Power. Menlu juga menyampaikan bahwa kegiatan diklat diplomatik yang melibatkan peserta asing tersebut berguna tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan substansi dan keterampilan diplomat, namun juga untuk meningkatkan pemahaman para peserta diklat, khususnya diplomat asing terhadap Indonesia. Diklat ini diharapkan dapat mendorong hubungan dan kerja sama diplomat Indonesia dengan diplomat asing. Kedua diklat ini diadakan sebagai pelaksanaan komitmen Indonesia untuk mengimplementasikan Deklarasi “New Asian – African Strategic Partnership (NAASP)” serta komitmen dalam kerangka kerjasama ASEAN.

 

KESIMPULAN

Indonesia sudah mulai melakukan hubungan dengan negara-negara luar, termasuk melakukan hubungan dengan Mesir, Afrika. sejak dahulu kala sebelum orang-orang Eropa melakukan penjelajahan ke belahan dunia para pelaut Nusantara telah terlebih dahulu melakukan pelayaran ke berbagai benua.

            Menurut G. Ferrand dan G. Coedes kerajaan Melayu pertama yang besar adalah Sriwijaya yang pusatnya diduga terletak di sekitar kota Palembang sekarang.  Prasasti Sansekerta dan tulisan Cina serta Arab (Ibn Said dan Abul Fida) menggambarkan Sriwijaya sebagai suatu negara yang berkuasa dan kaya. Sriwjaya sebagai negara Maritim merupakan negara yang mengandalkan perekonomiannya dari kegiatan prdagangan dan hasil laut. Untuk stabilitas kerajaan Sriwjaya juga membentuk armada Laut yang kuat, supaya dapat mengatasi gangguan di jalur pelayaran perdagangn.  Dari sinilah permulaan dari seluruh perdagangan, pertukaran kebudayaan, hubungan dengan negara lain dimulai dan berdampak hingga saat ini khususnya hubungan antara Indonesia, Afrika,  dan Mesir.  

             Tradisi pelayaran dan perdagangan di Asia Tenggara dan Indonesia sebagai kawasan Nusantara ini memberikan catatan sejarah dalam proses Islamisasi di Indonesia dengan berbagai tahapan-tahapan yang dilaluinya, dan hal ini pula berdampak pada kehidupan sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

            Hubungan antara Indonesia, Afrika dan Mesir saat ini mengalami perkembangan dalam bidang politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya. Dan semakin mempererat kembali hubungan bilateral ini dengan tujuan agar tercipta keadaan yang damai dan lebih baik dari sebelumnya.

 

           

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s