Penjualan Angsuran (Barang Bergerak/Barang Dagang)

Penjualan Angsuran

(Barang Bergerak/Barang Dagang)

 

 

 

  1. Pendahuluan

Metode penjualan angsuran pada mulanya berasal dari penjualan rumah pada perusahaan real

estate, tetapi pada masa sekarang penjualan dengan metode ini telah berkembang pada perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan kendaraan seperti mobil, motor; mesin;  alat-alat rumah tangga dan lainnya. Bahkan pada beberapa jenis industri metode penjualan angsuran ini telah menjadi kunci utama dalam mencapai operasi skala besar.

Metode penjualan angsuran ini cukup berkembang pesat dan disukai di kalangan usahawan dan juga di kalangan pembeli. Bagi usahawan metode ini telah meningkatkan jumlah penjualan yang tentunya meningkatkan laba, bagi pembeli mereka merasa lebih ringan dalam hal pembayaran untuk melunasi barang yang dicicil tersebut.

Meskipun dengan metode ini resiko atas tidak tertagihnya piutang akan meningkat, tetapi kelemahan metode ini dapat diatasi dengan meningkatnya volume penjualan perusahaan.       

 

  1. Pengertian Penjualan Angsuran

Penjualan angsuran adalah penjualan barang atau jasa yang dilaksanakan dengan perjanjian dimana pembayaran dilakukan secara bertahap atau berangsur. Biasanya pada saat barang atau jasa diserahkan kepada pembeli, penjual menerima uang muka (down payment) sebagai pembayaran pertama dan sisanya diangsur dengan beberapa kali angsuran. Karena penjualan harus menunggu beberapa periode untuk menagih seluruh piutang penjulannya, maka biasanya pihak penjual akan membebankan bunga atas saldo yang belum diterimanya.

      Resiko atas tidak tertagihnya piutang usaha angsuran ini sangat tinggi, mungkin saat akan dilakukan penjualan angsuran telah dilakukan survai atas pembeli dan memperoleh hasil yang baik. Karena penagihan piutang usaha angsuran memakan waktu yang cukup lama (beberapa periode), hal tersebut kemungkinan dapat merubah hasil survai yang telah dilakukan semula terhadap pembeli. Untuk menghindari hal-hal demikian, penjual biasanya akan membuat kontrak jual beli (security agreement), yang memberikan hak kepada penjual untuk menarik kembali barang yang telah di jual dari pembeli.

      Untuk mengurangi barang angsuran tersebut dari resiko terbakar atau hilang, pihak penjual dapat menetapkan syarat bagi pembeli agar barang angsuran tersebut diasuransikan untuk kepentingkan pihak penjual. Premi asuransi ditanggung oleh pembeli, jika barang angsuran hilang atau terbakar, pihak asuransi akan membayar ganti rugi kepada penjual dan bukan pembeli. Kadang kala mungkin jiwa dari pembeli diwajibkan oleh penjual untuk diasuransikan dengan premi auransi atas tanggungan si pembeli.

 

 

  1. Metode Pengakuan Laba Kotor Pada Penjualan Angsuran

Untuk menghitung laba bersih pada penjualan angsuran adalah sangat kompleks, karena beban

                 sehubungan dengan penjualan angsuran tersebut tidak hanya terjadi pada saat penjualan angsuran                         tersebut dilakukan, melainkan akan terjadi sepanjang penjualan angsuran tersebut belum dilunasi.

Sesuai dengan konsep akuntasni yaitu membandingkan antara beban dengan pendapatan     

                (matching costs against revenue), maka pada saat penjualan angsuran dapat ditentukan nilai dari    

                penjualan, harga pokok dan beban yang terjadi pada periode tersebut.

                        Karena penagihan penjualan angsuran meliputi beberapa periode, timbul masalah bagaimana

                beban yang terjadi pada periode berikutnya (misalkan beban penagihan, administrasi, perbaikan dan

                pemilikan kembali) sehubungan penagihan piutang usaha angsuran tersebut.

Untuk menghitung laba kotor dalam penjualan angsuran pada prakteknya dapat dilakukan dengan  

                metode Laba Kotor direalisasi sesuai dengan penerimaan kas.      

                        Dalam metode ini laba kotor diakui sesuai dengan realisasi penerimaan kas dari penjualan

angsuran yang diterima pada periode akuntansi yang bersangkutan.

Prosedur yang menghubungkan tingkat keuntungan dengan realisasi penerimaan angsuran pada perjanjian penjualan angsuran adalah:

  1. Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai pengembalian harga pokok (Cost) dari barang-barang yang dijual atau service yang diserahkan, sesudah seluruh harga pokok (Cost) kembali, maka penerimaan-penerimaan selanjutnya baru dicatat sebagai keuntungan. Prosedur ini dianggap sangat konservatif. Dapat didukung jika timbul keraguan mengenai nilai yang dapat diperoleh kembali, baik yang berkaitan dengan saldo atau sisa kontrak cicilan maupun yang berkaitan dengan barang-barang yang terkena pemilikan kembali.
  2. Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai realisasi keuntungan yang diperoleh sesuai dengan kontrak penjualan; sesudah seluruh keuntungan yang ada terpenuhi, maka penerimaan-penerimaan selanjutnya dicatat sebagai pengumpulan kembali atau pengembalian harga pokok (Cost).
  3.  Setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik sebagai pengembalian harga pokok (Cost) maupun sebagai realisasi keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok dan keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditandatangani. Di dalam hal ini keuntungan akan selalu sejalan dengan tingkat pembayaran angsuran selama jangka perjanjian.

Metode ini memberikan kemungkinan untuk mengakui, keuntungan prosporsional dengan tingkat penerimaan pembayaran angsuran. Di dalam akuntansi prosedur demikian dikenal dengan metode angsuran atau dasar angsuran (installment method or installment basis).

      Jika penjualan angsuran berupa barang dagang, dan perusahaan menggunakan system phisik di dalam pencatatan persediaannya, maka perusahaan akan mendebit perkiraan piutang usaha angsuran dan mengkredit perkiraan penjualan angsuran.

Jurnalnya adalah:

      Piutang usaha angsuran                                                                       xxxxxx

                  Penjualan angsuran                                                                             xxxxxx

      Sedangkan jika digunakan system balance permanen selain jurnal tersebut di atas ditambah jurnal pengakuan harga pokok penjualan angsuran tersebut

Jurnalnya adalah:

     Piutang usaha angsuran                                                                        xxxxxx

                  Penjualan angsuran                                                                             xxxxxx

     Harga pokok penjualan angsuran                                                         xxxxxx

                  Persediaan barang dagang                                                                  xxxxxx

    

     Mengenai penagihan piutang usaha angsuran tersebut akan dicatat dengan mendebit perkiraan kas dan mengkredit perkiraan piutang usaha

 Jurnalnya adalah:

      Kas                                                                                                      xxxxxx

                  Piutang usaha angsuran                                                                       xxxxxx

     Selanjutnya pada akhir periode, saat dilakukan jurnal penyesuaian akan dicatata mengenai tiga hal, yaitu:

  1. Mencatat harga pokok penjualan angsuran dengan mendebit perkiraan harga pokok penjualan

angsuran dan mengkredit pengiriman barang angsuran. Perkiraan pengiriman barang angsuran merupakan perkiraan rugi laba atau perkiraan nominal dan harus ditutup ke perkiraan ikhtisar rugi laba.

                       Jurnalnya adalah:

Harga pokok penjualan angsuran                                                        xxxxxx

            Pengiriman barang penjualan angsuran                                               xxxxxx

   

Jurnal ini dicatat jika perusahaan menggunakan system phisik dalam pencatatan persediaannya,     

jika digunakan system balance permanen (perpetual) jurnal ini tidak diperlukan, karena pengakuan harga pokok penjuaaln angsuran telah dilakukan pada saat terjadinya penjualan angsuran tersebut.

  1. Mencatat laba kotor yang ditangguhkan dengan mendebit perkiraan penjualan angsuran dan mengkredit perkiraan hara pokok penjualan angsuran dan perkiraan laba kotor yang berlum direalisasi (ditangguhkan). Jurnal ini dicatat baik untuk system perpetual atau phisik.

Jurnalnya adalah:

Penjualan angsuran                                                                             xxxxxx

            Harga pokok penjualan angsuran                                                        xxxxxx

            Laba kotor yang berlum direalisasi (ditangguhkan)                xxxxxx

  1. Mencatat realisasi laba kotor atas penerimaan kas dari hasil penjualan angsuran dengan mendebit perkiraan laba kotor yang ditangguhkan dan mengkredit perkiraan laba kotor yang direalisasi.

Jurnalnya adalah:

Laba kotor yang belum direalisasi                                                      xxxxxx

            Laba kotor yang direalisasi                                                                 xxxxxx

 

Laba kotor yang belum direalisasi adalah selisih antara penjualan angsuran dengan harga

pokoknya. Laba kotor yang berlum direalisasi akan direalisasi pada saat penerimaan piutang usaha angsuran yaitu dengan mengalikan presentase laba kotor dengan kas yang diterima dari piutang usaha angsuran tersebut.

      Untuk menghitung presentase laba kotor yaitu dengan membagi laba kotor yang belum direalisasi dengan penjualan angsuran yang bersangkutan dan hasilnya dikalikan 100%.

 

Laba kotor yang belum direalisasi  = Penjualan – HPP (Harga Pokok Penjualan)

% Laba kotor =  (Laba kotor yang belum direalisasi : Penjualan angsuran) x 100% 

 

 

 

Contoh soal:

 

  1. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PADA PENJUALAN ANGSURAN
  2. Neraca

Penyusunan neraca pada perusahan yang melakukan penjualan nagsuran sama dengan penjualan biasa, hanya terdapat hal yang harus dieprhatikan adalah:

  1. Piutang usaha angsuran biasanya dikelompokkan sebagai aktiva lancar dan harus dijelaskan pada penjelasan laporan keuangan atau dengan catatan kaki yang mengungkapkan tanggal jatuh temponya. Hal ini dengan asumsi bahwa definisi dari aktiva lancar adalah sumber-sumber yang diharapkan dapat direalisir menjadi kas atau dijual. Maka jangka waktu piutang usaha angsuran tersebut diabaikan.
    1. Laba kotor yang belum direalisasikan dapat dikelompokkan:
  • Kelompok kewajiban atau pendapatan yang belum direalisasi.
  • Pengurang piutang usaha angsuran.
  • Kelompok modal yang menjadi bagian dari laba yang ditahan

Cara yang paling umum adalah laba kotor yang belum direalisasi dicatat sebagai kelompok kewajiban.

 

  1. Laporan Rugi/Laba dan Daftar analisa realisasi laba kotor

Di dalam penyusunan perhitungan rugi/laba untuk penjualan angsuran, harus dipisahkan antara penjualan biasa dengan angsuran. Laba kotor penjualan angsuran periode tersebut dikurangi dengan saldo laba kotor yang belum direalisasi pada akhir periode, yang menghasilkan laba kotor periode tersebut yang telah direalisasi.

 

  1. PENGAKUAN LABA PENJUALAN ANGSURAN DALAM KAITANNYA DENGAN UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

v    Undang-undang Perpajakan No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan

Menurut salah satu metode penjualan angsuran bahwa laba kotor diakui sejalan dengan tagihan uang kas yang diterima, sehingga laba kotor akan diakui untuk beberapa periode fiskal. Sedangkan menurut pajak penghasilan sesuai dengan undang-undang no.7 bahwa laba hasrus diakui pada saat penjualan dilakukan. Sehingga terdapat perbedaan persepsi antara laba menurut metode penjualan angsuran dengan undang-undang pajak penghasilan.

Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia pasal 9 tentang pajak penghasilan, yaitu:

  • Dalam Perhitungan rugi/laba, jumlah pajak penghasilan dapat dihitung berdasarkan laba menurut akuntansi atau laba kena pajak, dengan tarif sebagaimana ditetapkan oleh fiskus.
  • Dalam hal pajak penghasilan dihitung menurut laba akuntansi, selisih perhitungan tersebut dengan hutang pajak (yang dihitung menurut laba kena pajak), yang disebabkan “perbedaan waktu” pengakuan pendapatan dan beban untuk tujuan akuntansi dengan tujuan pajak akan ditampung ke dalam pos “pajak penghasilan yang ditangguhkan” dan dialokasikan pada beban pajak pengahsilan tahun-tahun berikutnya. Sehingga dengan demikian jika perusahaan menghitung laba menurut metode pengakuan laba kotor sejalan dengan penerimaan kas hasil penjualan angsuran, maka selisih antara pajak penghasilan perusahaan dengan pajak pengahsilan menurut fiskus ditampung dalam perkiraan pajak penghasilan yang ditangguhkan (belum direlisasi).  

Contoh soal:

  1. Bila PT Hadouken mendapatkan laba untuk tahun 1999 sebesar Rp. 10.250.000,00. Sedangkan menurut undang-undang pajak penghasilannya adalah Rp. 9.500.000,00. Buatlah jurnal untuk menyesuaikannya!

Pajak pengahsilan menurut perusahaan                                         Rp. 10.250.000,00

Pajak pengahsilan menurut UU pajak penghasilan                       Rp. 9.500.000,00

Selisih                                                                                            Rp. 750.000,00

  • Jurnal untuk mencatat pembebanan pajak tersebut

Ikhtisar rugi/laba                                                  Rp. 10.250.000,00

     Hutang pajak (PPh pasal 29)                                       Rp. 9.500.000,00

     Pajak penghasilan yang ditangguhkan                        Rp. 750.000,00

Jika perusahaan menggunakan metode pengakuan laba kotor pada saat penjualan angsuran, maka tidak terdapat perbedaan antara laba menurut perusahaan dengan laba menurut pajak.

v  Undang-undang perpajakan No.8 tahun 1983 tentang pajak pertambahan nilai dan pajak

   penjualan atas barang mewah

Untuk perusahaan dagang umumnya dan perusahaan dagang angsuran harus ditetapkan apakah perusahaan tersebut adalah pengusaha kena pajak (PKP) atau non PKP.

Bila perusahaan tersebut adalah PKP, maka untuk seluruh penjualan barang dagangnya harus dikenakan PPN. Dan bila merupakan non PKP maka tidak boleh dipungut PPN. PPN yang dikenakan atas nilai jual ini disebut sebagai PPN keluaran. Sedangkan PPN atas barang yang dibeli merupakan PPN masukkan.  PPN masukkan dapat dikreditkan dengan PPN keluaran.

Selain itu perusahaan juga membayar pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), bila barang yang dibeli merupakan kategori barang mewah.  Tarif ini berkisar anatar 10% – 30%.  PPnBM ini dikenakan hanya sekali pada pengusaha dan tidak daoat dikreditkan dengan PPN keluarannya sehingga harus dimasukkan sebagai harga pokok barang yang dibelinya.      

 

  1. Variasi Soal

Contoh soal dan penyelesaian penjualan angsuran barang bergerak.

 

PT. A

NERACA

Per 31 Desember 1992

(Jutaan Rp)

Kas                                                      500      Hutang Usaha                                          60

Persediaan BD                                                400      LK yg belum direalisasi th 92                  50

Piutang Usaha (biasa)                         300      LK yg belum direalisasi th 91                  40

Piutang Usaha Cicilan th 92               200      Modal Saham                                         500

Piutang Usaha Cicilan th 91               100      Laba yang ditahan                                 850

                                                         1.500                                                                  1.500

 

Penjualan cicilan th 92 dengan tingkat laba kotor  25% dan penjulan cicilan th 91 dengan tingkat laba kotor 40%.

 

Transaksi dan ayat jurnal untuk PT. A yang berhubungan dengan penjulan biasa dan penjualan angsuran th. 1993 adalah sbb:

 

1 Januari 1993 sampai dengan 31 Desember 1993

 

  1. Pembelian barang dagang secara kredit Rp. 300.000.000,-

 

Pembelian                                                                                                       300 juta

       Hutang Usaha                                                                                                            300 juta

  1. Penjualan terdiri dari :      Tunai                                                                     400 juta

Kredit                                                                   300 juta     

               Cicilan                                                                  200 juta

                                                                                                                             900 juta

 

 

      Kas                                                                                                                 400 juta

      Piutang Usaha                                                                                                300 juta

            Penjualan                                                                                                                     700 juta

 

      Piutang Usaha Cicilan th 93                                                                         200 juta

            Penjualan Cicilan                                                                                                        200 juta

 

 

  1. Menerima pembayaran dari debitur atas :                                                                        

      Piutang Usaha                                     280 juta

      Piutang Usaha Cicilan th. 93              100 juta

      Piutang Usaha Cicilan th. 92              100 juta

      Piutang Usaha Cicilan th. 91               70 juta

                                                                  550 juta

 

     

Kas                                                                                                                       550 juta

            Piutang Usaha                                                                                                             280 juta

            Piutang Usaha Cicilan – th. 93                                                                                    100 juta

            Piutang Usaha Cicilan – th. 92                                                                                    100 juta

            Piutang Usaha Cicilan – th. 91                                                                                    70 juta

 

  1. Pembayaran untuk :

Hutang Usaha                                     350 juta

-/- Potongan                                        (  3 juta)

                                                            347    juta

            Biaya operasi                                         53,5 juta

            Jumlah kas yg dikeluarkan                  400,5 juta

 

      Hutang Usaha                                                                                              350    juta

      B. Operasi                                                                                                 53,5 juta

            Potongan pembelian                                                                                                       3    juta

            Kas                                                                                                                              400,5 juta

 

  1. Jurnal penyesuaian.

Bila pada  th. 93 tingkat laba kotor dari penjualan adalah 50% maka Harga Pokok barang yang berkaitan dengan penjulan adalah Rp. 100 juta.

 

HPP Cicilan                                                                                              100 juta

      Pengiriman atas penjualan Cicilan                                                                              100 juta

 

  1. Untuk menutup perkiraan penjualan cicilan dengan HPP cicilan serta mencatat LK yang belum direalisasi.

 

Penjualan Cicilan                                                                                      200 juta

      HPP Cicilan                                                                                                                100 juta

      LK yang belum direalisasi th. 93                                                                                100 juta

 

  1. Jurnal penyesuaian untuk mencatat LK yang direalisasi untuk :

            Th. 93 = 50% x 100 juta =        50 juta

            Th. 92 = 25% x 100 juta =        25 juta

            Th. 91 = 40% x   70 juta =        28 juta

                                                            103 juta

 

      LK yang belum direalisasi th. 93                                                                      50 juta

      LK yang belum direalisasi th. 92                                                                      25 juta

      LK yang belum direalisasi th. 91                                                                      28 juta

            LK yang direalisasi                                                                                                     103 juta

 

  1. Untuk menutup perkiraan persediaan awal, pembelian, potongan, pembelian , dan penyisihan atas penjualan cicilan.

 

Ikhtisar R/L                                                                                               597 juta

Pengiriman atas penjulan cicilan                                                               100 juta

Potongan pembelian                                                                                      3 juta

      Persediaan BD (awal)                                                                                                 400 juta

      Pembelian                                                                                                                    300 juta

 

 

 

  1. Untuk mencatat persediaan akhir.

 

Persediaan BD (akhir)                                                                               150 juta

      Ikhtisar R/L                                                                                                                 150 juta

 

  1. Jurnal penutup akhir untuk perkiraan-perkiraan yang belum ditutup.

 

Penjualan (biasa)                                                                                       700 juta

LK yang direalisasi                                                                                   103 juta

      Biaya operasi                                                                                                                 53,5 juta

      Ikt. R/L                                                                                                                       749,5 juta

  1. Jurnal untuk mencatat pajak yang terhutang :

10% x 25 juta              =      2,5   juta

15% x 25 juta              =      3,75 juta

30% x 252,5 juta         =    75,75 juta

                                          82      juta

 

      Pajak penghasilan                                                                                             82 juta

           Hutang pajak penghasilan                                                                                            82 juta

 

  1. Jurnal untuk menutup pajak penghasilan ke Ikt. R/L.

 

Ikt. R/L                                                                                                            82 juta

      Pajak penghasilan                                                                                                        82 juta

 

  1. Jurnal untuk memindahkan laba bersih ke laba yang ditahan.

 

Ikt. R/L                                                                                                        220,5 juta

      Laba yang ditahan                                                                                                      220,5 juta

 

Masalah tukar-tambah dalam penjualan cicilan barang bergerak.

 

Misalkan barang dagangan dengan harga pokok Rp. 72 juta dijual seharga Rp. 100 juta. Sebagai pengganti uang muka, maka diterima barang bekas dengan nilai tukar tambah sebesar Rp. 30 juta. Perusahaan memperkirakan biaya perbaikan barang bekas ini sebesar Rp. 2 juta dan harga jual setelah diperbaiki sebesar 25 juta. Perusahaan biasanya mengharapkan laba kotor sebesar 12% atas penjualan barang bekas.

 

Nilai barang tukar tambah dan selisih nilai tukar tambah dihitung sbb :

 

Jumlah yang ditetapkan atas tukar tambah                                                                                          Rp. 30 juta

Nilai barang tukar tambah :                                                                                                    Rp. 25 juta

Nilai penjualannya                                                                                                                     

Dikurangi:

      Biaya perbaikan                                                                                         Rp.   2 juta

   Laba kotor yg diharapkan atas penjualan kembali barang bekas =              Rp. 3 juta  

                                                                                                                                                                                                           (Rp.  5 juta)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   (Rp. 20 juta) Nilai tukar lebih                                                                                                                                       Rp. 10 juta

 

Jurnal untuk mencatat penjualan cicilan dengan tukar tambah ini adalah sbb :

 

Barang dagangan (tukar tambah)                                                                    Rp. 20 juta

Nilai tukar lebih atas penj. cicilan dg tukar tambah                                         Rp. 10 juta

Piutang penjualan cicilan                                                                                 Rp. 70 juta

       Penjualan Cicilan                                                                                                             Rp. 100 juta

 

HPP Cicilan                                                                                                     Rp. 72 juta

       Barang dagangan                                                                                                             Rp.   72 juta

 

Persentase laba kotor = 18 juta : 90 juta x 100%   =   20%

 

 

Masalah pembatalan penjualan angsuran barang bergerak akibat ketidakmampuan membayar.

 

Misalkan penjualan cicilan th. 93                                                                   Rp. 200 juta

Tingkat LK atas penjualan cicilan th. 93                                                                                Rp.   50 juta

 

Pada tahun ’94, seorang customer tidak mampu membayar kontrak penjualan cicilan sebesar Rp. 10 juta yang berasal dari transaksi th. 93 dan total yang telah ditagih pada th. 93 adalah Rp. 5 juta. Barang dimiliki kembali dan dinilai sebesar Rp. 2 juta.

 

Maka jurnal untuk mencatat ketidakmampuan membayar dan kepemilikan kembali adalah:

Barang dagangan (pemilikan kembali)                                                           Rp. 2    juta

LK yang belum direalisasi th. 93                                                                    Rp. 2,5 juta

Kerugian atas pemilikkan kembali                                                                  Rp. 0,5 juta

       Hutang Usaha Cicilan th. 93                                                                                            Rp. 5 juta

 

 

 

Iklan

Artikel

Artikel

 

 

MATERI TEORI AKUNTANSI

(Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Akhir Semester Pada Mata Kuliah Teori Akuntansi )

 

Oleh

Mujiharto Panga

921 411 144

 

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis

Universitas Negeri Gorontalo

2013

MATERI 15

Konsep Laba Dan Aliran Kas

Laba (Income)

Makna income dalam konteks perpajakan berbeda dengan makna income dalam akuntansi. Dalam perpajakan, income dimaknai sebagai penghasilan, sedangkan di dalam buku-buku teks akuntansi, istilah income pada umumnya dimaknai sebagai jumlah bersih. Di dalam FASB konsep income di dalam teori akuntansi tersebut disebut dengan laba komprehensif. Karena secara umum,akuntansi menganut konsep penandingan, konsep kos historis, dan asas akrual, maka laba akuntansi yang sekarang dianut dimaknai sebagai selisih pendapatan dan biaya.

Tujuan Pelaporan Laba

Laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya secara akrual. Pengertian seperti ini akan mempermudah di dalam pengukuran dan pelaporan laba secara objektif. Pendefinisian laba seperti ini juga akan lebih bermakna sebagai pengukur kembalian atas investasi daripada sekedar perubahan kas. Berdasarkan pengertian dan cara pengukuran, laba akuntansi diharapkan dapat digunakan sebagai: pengukur efisiensi, pengukur kinerja entitas dan manajemen, dasar penentuan pajak, sarana alokasi sumber ekonomik, penentuan tarif jasa publik, optimalisasi kontrak utang-piutang, basis kompensasi, motivator, dasar pembagian dividen

Konsep Laba Konvensional

Berdasarkan konsep ini, laba didefinisi sebagai selisih pendapatan dan biaya yang diukur dan disajikan atas dasar prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Laba akuntansi menurut konsep konvensional memiliki beberapa kelemahan, yaitu: tidak bermakna semantik, berfokus pemegang saham, PABU memberi peluang perbedaan antarentitas, berbasis kos histories, dan hanya sebagian masukan informasi bagi investor.

Konsep Laba Dalam Tataran Semantik

Konsep laba dalam tataran semantik berkaitan dengan masalah makna apa yang harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada simbol atau elemen laba sehingga laba bermanfaat dan bermakna sebagai informasi. Terdapat beberapa konsep atau fungsi laba dalam tataran semantik, yaitu: pengukur kinerja, konfirmasi harapan investor, dan sebagai estimator laba ekonomik.

Sebagai pengukur kinerja, laba dapat diinterpretasi sebagai sebagai pengukur keefisienan (efisiensi) bila dihubungkan dengan tingkat investasi karena efesiensi secara konseptual merupakan suatu hubungan atau indeks. Oleh investor, lana sebagai pengukur efisiensi digunakan dalam bentuk kembalian atas investasi. Laba dapat merepresentasi kinerja efisiensi karena laba menentukan ROI, ROA dan ROL sebagai pengukur efisiensi. Sebagai konfirmasi harapan investor. Perekayasa pelaporan juga berusaha menyediakan informasi untuk meyakinkan bahwa harapan-harapan investor atau pemakai lainnya di masa lalu tentang kinerja perusahaan memang terrealisasi, sehingga laba dapat diinterpretasi sebagai sarana untuk mengkonfirmasi harapan-harapan tersebut.

Laba ekonomik adalah laba dari kacamata investor karena keperluan untuk menilai investasi dalam saham yang dalam banyak hal bersifat subjektif. Dalam beberapa hal, laba akuntansi berbeda dengan laba ekonomik. Jika laba akuntansi bebas dari gangguan dan mendekati laba ekonomik, maka laba akuntansi akan menjadi prediktor yang andal.

Arus kas (Cash Flow)

Arus Kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas (cash equivalent) atau investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek dan yang cepat dapat di jadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan (Ikatan Akuntan Indonesia 2004 : 2.2). Arus Kas adalah arus kas masuk operasi dengan pengeluaran yang dibutuhkan untuk mempertahankan arus kas operasi dimasa mendatang (Brigham dan Houston 2001 : 47). Dari kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Arus Kas adalah arus kas masuk dan arus kas keluar atau setara kas dalam periode tertentu yang berjangka pendek dalam pengelolaan uang yang dimiliki perusahaan.

Tujuan Laporan Arus Kas

Laporan arus kas dirancang untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut ini (Hongren dkk 1989 : 845) :

ü  Untuk memperkirakan arus kas masa datang. Dalam banyak kasus, sumber dan penggunaan kas perusahaan tidaklah berubah secara dramatis dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, penerimaan dan pengeluaran kas dapat diterima sebagai alat yang baik untuk memperkirakan penerimaan dan pengeluaran kas dimasa datang.

ü  Untuk mengevaluasi pengambilan keputusan manajemen. Laporan arus kas akan melaporkan kegiatan investasi perusahaan, sehingga memberikan informasi arus kas kepada investor dan kreditor untuk mengevaluasi keputusan manajer.

ü  Untuk menentukan kemampuan perusahaan membayar deviden kepada pemegang saham, pembayaran bunga dan pokok pinjaman kepada kreditor.

ü  Laporan arus kas membantu investor dan kreditor untuk mengetahui apakah perusahaan bisa melakukan pembayaran-pembayaran ini.

ü  Untuk menunjukkan hubungan laba bersih terhadap perubahan kas perusahaan.

ü  Adanya kemungkinan bangkrutnya suatu perusahaan yang mempunyai laba bersih yang cukup tetapi kas yang rendah menyebabkan diperlukannya informasi arus kas.

Tujuan Laporan Arus Kas adalah memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas (Dyckman dkk 2001 : 550). Informasi arus kas membantu pemakai untuk menilai :

ü  Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas.

ü  Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban.

ü  Penyebab terjadinya perbedaan antara laba dan arus kas terkait.

ü  Pengaruh kegiatan investasi dan pembiayaan (pendanaan) yang menggunakan kas dan yang tidak (non kas) terhadap posisi keuangan perusahaan

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Godfrey Jayne, et al.  2010. Accounting Theory.  Sevent Edition

 

http://joblistmu.blogspot.com/2011/07/kerangka-kerja-konseptual.html (Diakses

tanggal 20 Desember 2013)

 

http://tesisdisertasi.blogspot.com/2013/01/teori-akuntansi-tujuan-pelaporan.html (Diakses pada tanggal 20 Desember 2013 )

 

JOBLIST. Teori AkuntansiKerangka Kerja Konseptual”

 

MATERI 14 Pendapatan Dan Beban

MATERI 14

Pendapatan Dan Beban

Pendapatan

Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees) bunga, defiden, royalty dan sewa.

(PSAK 23 Paragraf 6) Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi penanaman modal.

Pendapatan hanya terdiri atas arus masuk bruto dari manfaaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh perusahaan untuk dirinya sendiri. Jumlah yang ditagih atas nama pihak ketiga seperti pajak pertambahan nilai bukan merupakan manfat ekonomi yang mengalir ke perusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas sehingga tidak akui sebagai pendapatan.

Ruang Lingkup

Pendapatan timbul dari transaksi dan peristiwa ekonomi :

Penjualan Barang

Meliputi barang yang diproduksi perusahaan untuk dijual dan barang yang dibeli untuk dijual kembali, seperti barang dagangan yang dibeli pengecer atau tanah dan properti lain yang dibeli untuk dijua            l kembali.

Penjualan jasa

Biasanya menyangkut pelaksanaan tugas yang secara kontraktual telah disepakati untuk dilaksanakan selama suatu periode waktu yang disepakati oleh perusahaan. Jasa tersebut dapat diserahkan selama satu atau lebih dari satu periode.

Penggunaan asset perusahaan oleh pihak lain menimbulkan pendapatan dalam bentuk :

ü  Bungan yaitu pembebanan untuk penggunaan kas dansetara kas atau jumlah terutang kepada perusahaan.

ü  Royalti yaitu pembebanan untuk penggunaan asset jangka panjang perusahaan misalnya paten, merek dagang, hak cipta dan piranti lunak computer.

ü  Dividen yaitu distribusi laba kepada pemegang investasi ekuitas sesuai dengan proporsi mereka dan jenis modal tertentu.

ü  Perjanjian sewa.

ü  Pertumbuhan alami dari ternak dan hasil pertanian.dll

Pengukuran Pendapatan

Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Biasanya timbul dari transaksi persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau pengguna aset tersebut. Jumlahnya diukur dengan nilai wajar imbalah diterima atau dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah discount dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan. Bila barang atau jasa dipertukarkan (barter ) untuk barang atau jasa dengan sifat dan niali yang sama maka tidak dianggap sebagai mengakibatkan pedapatan, terkecuali bila barang/jasa tidak serupa, maka mengakibatkan pendapatan.

Pengakuan Pendapatan

Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dan manfaat dapat diukur dengan andal.

Pendapatan dari penjualan barang harus diakui bila seluruh kondisi berikut dipenuhi :

ü  Perusahaan telah memindahkan resiko secara signifikan dan memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada pembeli.

ü  Perusahaan tidak lagi mengelola dan melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual.

ü  Besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan transaksi akan mengalir kepada perusahaan tersebut.

ü  Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transaksi penjualan dapat diukur dengan andal.

 

Biaya Dan Beban

Biaya adalah pengorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan suatu barang atau jasa (aktiva) dan Beban adalah harga perolehan barang, jasa dan fasilitas yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan periode berjalan seperti harga pokok penjualan, beban dan biaya operasi, beban diluar usaha, dan pos-pos luar biasa.

Obyek Biaya

Definisi obyek biaya adalah apa saja yang memperoleh pembebanan biaya. Langkah pertama untuk menentukan obyek biaya dapat di analogikan dengan melakukan pengukuran panjang suatu obyek, setelah obyek pengukuran tersebut jelas maka hasil pengukurannya yakni informasi panjang obyek tersebut dapat kita nilai obyektivitasnya. Contoh analoginya seperti bila obyeknya adalah jalan raya Jakarta-Bogor maka hasil pengukurannya adalah berupa jarak Jakarta ke Bogor dalam satuan kilometer.

 

MATERI 13 Konsep Ekuitas

MATERI 13

Konsep Ekuitas

1.       Definisi Ekuitas

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia ( IAI ) atau PSAK (2002) pasal 49, ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban. Berbagai sumber yang lain mendefinisi ekuitas yang tidak berbeda denagn definisi menurut IAI. Ekuitas didefinisikan sebagai hak residual untuk menunjukkan bahwa ekuitas bukan kewajiban. Ini berarti ekuitas bukan pengorbanan sumber ekonomik masa datang. Karena didefinisi atas dasar asset dan kewajiban, nilai ekuitas juga bergantung pada bagaimana asset dan kewajiban diukur.

2.    Komponen Ekuitas

Komponen ekuitas terdiri dari :

a.  Modal setoran (contributed capital),

terdiri dari modal yuridiksi (legal capital) yang dihitung berdasar nilai pari (par value) menunjukkan aktiva netto yang tidak dapat distribusikan. Kelebihan nilai diatas nilai nominal diakui sebagai agio saham (additional paid in capital)

b.   Laba Ditahan (retained earnings)

terdiri dari laporan laba rugi, penyesuaian periode sebelumnya, dan deviden

c.   Penyesuaian modal belum terealisasi (unrealized capital adjustment).

 

3.  Tujuan Penyajian Ekuitas

Pengungkapan informasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi oleh tujuan penyajian informasi tersebut kepada pemakai statemen keuangan. Pada umumnya, tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah menyelidiki akan informasi kepada yang berkepentingan tentang efisiensi dan kepengurusan (stewardship) manajemen serta menyediakan informasi tentang riwayat serta prospek investasi pemilik dan pemegang ekuitas lainnya. Informasi tentang kewajiban yuridis perseroan terhadap para pemegang saham dan pihak lainnya juga merupakan tujuan penyajian ekuitas pemegang saham ini.

4.  Teori Ekuitas

Teori ekuitas adalah teori yang menjelaskan sudut pandang yang digunakan dalam akuntansi berkaitan dengan penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Teori ini membahas pihak yang dianggap paling dominan dan menjadi sudut pandang dalam pelaporan keuangan. Pemakaian sudut pandang yang berbeda dapat menghasilkan format pelaporan yang berbeda pula.

a.       Teori Propietary

Pada awalnya teori ini muncul sebagai perwujudan dari sistem pembukuan berpasangan. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada pemilik. Persamaan akuntansi yang digunakan adalah : Aktiva-hutang = modal. Teori proprietary sangat cocok diterapkan untuk organisasi perusahaan perseorangan dan firma oleh karena dalam bentuk organisasi ini ada hubungan personal antara manajemen dengan pemilik.

b.      Teori Entitas (Kesatuan Usaha)

Teori entitas muncul untuk mengatasi kelemahan yang melekat pada teori proprietary. Terdapat pemisahaan antara kepentingan pribadi pemilik dengan kepentingan perusahaan. Dengan demikian, transaksi / kejadian yang dicatat dan dipertanggungjawabkan adalah transaksi yang melibatkan perusahaan. Perusahaan dianggap bertindak atas nama dan kepentingannya sendiri terpisah dari pemilik. Persamaan akuntansinya : Aktiva = Hutang + Modal atau Aktiva = Modal (Hutang + Modal Pemilik)

Teori entitas cocok diterapkan untuk organisasi yang berbentuk perseroan terbatas, tetapi juga relevan untuk perusahaan lain yang memiliki eksistensi yang terpisah dari individu pemilik.

Ada dua versi teori entittas, yaitu:

ü  Versi Tradisional Menurut pandangan tradisional, perusahaan beroperasi untuk pemegang ekuitas yaitu pihak yang memberi dana bagi perusahaan. Dengan demikian, perusahaan harus melaporkan status investasi dan konsekuensi investasi yang dilakukan pemilik. Melihat pemegang ekuitas sebagai partner dalam kegiatan usaha yand dijalankan.

ü  Versi Baru Pandangan ini menyatakan bahwa perusahaan beroperasi atas namanya sendiri dan berkepentingan terhadap kelangsungan hidupnya sendiri. Melihat pemegang ekuitas sebagai pihak di luar perusahaan.

c.       Teori Ekuitas Residual William Paton ( 1962 )

Menyatakan bahwa ekuitas residual merupakan salah satu jenis ekuitas dalam kerangka teori entitas. Pemegang saham memiliki ekuitas di perusahaan seperti pemegang ekuitas lainnya, tetapi pemegang saham tidak dianggap sebagai pemilik. Jadi teori ekuitas residual merupakan pandangan antara teori proprietary dan teori entitas. Dalam pandangan ini persamaan akuntansinya menjadi : Aktiva – Ekuitas khusus = Ekuitas Residual

Tujuan pendekatan teori ekuitas residual adalah memberikan informasi yang lebih baik kepada pemegang saham biasa dalam rangka pengambilan keputusan investasi.

d.      Teori Enterprise

Teori enterprise suatu perusahaan merupakan konsep yang lebih luas dibandingkan teori entitas, tetapi kurang terdefinisikan dengan baik dalam skope maupun aplikasinya. Dalam teori ini, perusahaan dipandang sebagai unit ekonomi terpisah yang dioperasikan dalam rangka memberikan manfaat bagi pemegang saham, sedangkan dalam teori entreprise, perusahaan dipandang sebagai lembaga sosial yang dioperasikan dalam rangka memberikan manfaat bagi banyak pihak yang berkepentingan. Konsep ini cocok diterapkan skala besar dan modern dan memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan pengaruh dari tindakannya kepada beberapa kelompok dan masyarakat secara keseluruhan. Konsep income yang paling relevan dengan teori enterprise adalah laporan keuangan nilai tambah yaitu laporan keuangan yang menunjukkan kontribusi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan didalam menghasilkan nilai tambah perusahaan.

e.      Teori Dana

Teori dana mengabaikan asumsi hubungan personal dalam teori proprietary dan asumsi personifikasi perusahaan sebagai unit ekonomi legal secara artifisal dalam teori entitas. Teori dana berdasarkan pada persamaan akuntansi sebagai berikut : Aktiva = Restriksi Aktiva

Konsep teori dana banyak digunakan di sektor pemerintahan dan lembaga nir-laba. Di dalam pemerintahan dana yang umumnya digunakan meliputi dana umum , dana pendapatan khusus, dana proyek, dan dana pelunasan hutang jangka panjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MATERI 12 Konsep Hutang

MATERI 12

Konsep Hutang

 

 

Definisi Hutang

Menurut FASB (Financial Accounting Standard Board) dalam SFAC No.6, hutang didefinisikan sebagai berikut :

“Hutang adalah pengorbanan manfaat ekonomi masa mendatang yang mungkin timbul karena kewajiban sekarang suatu entitas untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lain di masa mendatang sebagai akibat transaksi masa lalu.”

Komponen Hutang

Dari definisi yang dikemukakan, pengertian hutang memiliki dua komponen utama yaitu :

  1. Adanya kewajiban sekarang dalam bentuk pengorbanan manfaat ekonomi di masa mendatang dari penyerahan barang atau jasa.
  2. Berasal dari transaksi/peristiwa masa lalu (telah terjadi).

Kewajiban Sekarang

Kewajiban sekarang memiliki arti bahwa kewajiban tersebut timbul karena pada saat sekarang suatu entitas memiliki tanggung jawab yang tidak dapat dihindari untuk menyerahkan barang/jasa.

Hasil Transaksi Masa Lalu

Syarat lain dari hutang adalah berasal dari transaksi masa lalu. Transaksi tersebut menunjukkan transaksi yang benar-benar telah terjadi sehingga dapat digunakan untuk memastikan bahwa hanya kewajiban sekarang yang harus dicatat sebagai hutang dalam neraca.

Terjadinya Hutang

Intrepretasi terhadap terjadinya hutang cenderung didasarkan konsep economic substance over legal form bukan semata-mata pada aspek yuridisnya. Dengan demikian, apabila dinilai dari substansi ekonomi suatu transaksi/peristiwa memenuhi kriteria hutang, otomatis hutang akan diakui dan disajikan dalam neraca.

 

Keadaan Yang Dapat Menimbulkan Hutang

Untuk menentukan suatu transaksi sebagai hutang atau bukan, sangat tergantung pada kemampuan untuk menafsurkan transaksi/kejadian yang emnimbulkannya. Namun demikian, ditinjau dari penafsiran sematik apabila suatu kewajiban dalam kenyataannya memang ada, maka yang paling penting adalah mencatat hal tersebut sebagaisuatu hutang tanpa memperhatikan bagaimana terjadinya.

Kohler, (1970: hal.263) menyatakan bahwa hutang adalah suatu jumlah yang harus dibayar dalam bentuk uang, barang, atau jasa khususnya hutang yang memiliki kriteria sebagai berikut:

ü  terjadi/telah terjadi

ü  terjadi pada suatu saat tertentu di masa mendatang

ü  terjadi karena tidak dilaksanakannya suatu tindakan di masa yang akan datang.

Hutang dapat terjadi karena beberapa factor antara lain:

1.   Kewajiban legal/kontrak (Contractual liabilities)

Kewajiban legal adalah hutang yang timbul karena adanya ketentuan formal berupa peraturan hukum untuk membayar kas atau menyerahkan berang (jasa) kepada entitas tertentu.

2.   Kewajiban konstruktif (constructive liabilities)

Kewajiban konstruktif timbul karena kewajiban tersebut sengaja diciptakan untuk tujuan/kondisi tertentu, meskipun secara formal tidak dilakukan melalui perjanjian tertulis untuk membayar sejumlah tertentu dimasa yang akan datang.

3.   Kewajiban equitable

Kewajiban ekuitabel adalah hutang yang timbul karena adanya kebijakan yang diambil oleh perusahaan karena alas an moral/etika dan perlakuannya diterima oleh praktik secara umum.

MATERI 11 Konsep Aset Tetap

MATERI 11

Konsep Aset Tetap

 

Aset tetap adalah aset berujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.

Karakteristik aset tetap sebagai berikut:

  1. Dimiliki perusahaan untuk digunakan (bukan barang dagangan)
  2. Dimiliki untuk digunakan dalam operasi perusahaan yang utama (bukan investasi jangka panjang)
  3. Dimiliki untuk digunakan dalam jangka waktu lebih dari satu siklus operasi perusahaan (bukan perlengkapan)
  4. Memiliki nilai yang relatif tinggi

 

Klasifikasi Aset Tetap

Umumnya aset tetap dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

  1. Tanah, seperti tanah yang digunakan sebagai tempat berdirinya gedung perusahaan.
  2. Perbaikan Tanah, seperti jalan diseputar lokasi perusahaan yang dibangun perusahaan, tempat parkir, pagar, dan saluran air bawah tanah.
  3. Gedung, seperti gedung yang digunakan untuk kantor, toko, pabrik, dan gudang.
  4. Peralatan, seperti peralatan kantor, peralatan pabrik, mesin-mesin, kendaraan, dan meubel.

 

 

 

Pengeluaran-Pengeluaran Modal Dan Pendapatan

Perlakuan akuntansi terhadap pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan perolehan dan penggunaan aset tetap dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

ü  Capital expenditure/pengeluaran modal

Merupakan pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh suatu manfaat yang akan dirasakan lebih dari satu periode akuntansi dan akan dicatat dalam rekening aset (dikapitalisasi).

ü  Revenue expenditure/pengeluaran pendapatan

Merupakan pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh suatu manfaat yang hanya dirasakan dalam periode akuntansi yang bersangkutan dan dicatat dalam rekening biaya.

 

Prinsip Penilaian Aset Tetap Berujud

Aset Tetap dinyatakan sebesar nilai buku yaitu harga perolehan aset tetap tersebut dikurangi dengan akumulasi penyusutannya

 

ü  Harga perolehan (acquisition cost) aset tetap meliputi jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh aset tetap tersebut.

ü  Nilai buku aset tetap adalah harga perolehan aset tetap dikurangi dengan akumulasi depresiasi/deplesi aset tetap tersebut

 

Aset tetap yang dapat diganti dengan aset sejenis, penyusutannya disebut depresiasi. Penyusutan sumber alam disebut deplesi, sedangkan penyusutan aset tidak berwujud disebut amortisasi.

 

Cara-Cara Perolehan Aset Tetap

  1. Pembelian Tunai
  2. Pembelian Angsuran
  3. Ditukar dengan Surat-surat Berharga
  4. Ditukar dengan Aset Tetap yang Lain
  1. Pertukaran aset tetap yang tidak sejenis
  2. Pertukaran aset tetap yang sejenis
  1. Diperoleh dari Hadiah/Donasi
  2. Aset yang Dibuat Sendiri

 

Harga Perolehan Aset Tetap Berujud

Aset tetap berujud, termasuk:

  1. Tanah
  2. Bangunan/Gedung
  3. Mesin dan Alat-alat
  4. Alat-alat Kerja
  5. Pattern dan Dies/Cetakan
  6. Perabot/Mebelair dan Alat-alat Kantor
  7. Kendaraan
  8. Tempat Barang yang Dapat Dikembalikan/Returnable Container

 

Biaya-Biaya Selama Masa Penggunaan Aset Tetap

  1. Reparasi dan Pemeliharaan
  2. Penggantian
  3. Perbaikan/betterment/improvement
  4. Penambahan
  5. Penyusunan Kembali Aset Tetap/Rearrangement

 

Pemberhentian Aset Tetap

Aset tetap bisa dihentikan penggunaannya dengan cara:

  1. Dijual,
  2. Ditukarkan, atau
  3. Rusak

 

Pada saat aset tetap diberhentikan dari pemakaian

  1. semua rekening yang berhubungan dengan aset tetap tersebut dihapuskan
  2. apabila aset tetap tersebut dijual, maka selisih harga jual dengan nilai buku atau residu dicatat sebagai laba atau rugi.